Navigation Menu

featured Slider

Featured Post

Random Post

Talk About Javanese Part #1

Bahaya Parasit dan Cacingan di Balik Lezatnya Sushi


KOMPAS.com - Secara khusus, spesies cacing tertentu dapat tetap hidup di sushi dan masuk ke orang yang memakannya. Beberapa spesies cacing bisa masuk ke mata dan sistem saraf pusat, menciptakan komplikasi kesehatan yang serius.

Jenis cacing apakah yang dapat ditemukan di Sushi?
Nematoda adalah cacing yang biasanya berbentuk bulat, paparan cacing ini berasal dr mengonsumsi ikan laut mentah atau setengah matang, dikenal sebagai anisakiasis.
Di laut, larva cacing dimakan oleh ikan dan hewan lainnya. Jika daging dimasak matang, cacing akan mati. Pendinginan tidak akan membunuh parasit laut. Centers for Disease Control (CDC) merekomendasikan prosedur pembekuan dan pencairan yang ketat untuk meminimalkan risiko Anda mengonsumsi parasit laut.
Cacing ini memengaruhi saluran pencernaan, dan mereka dapat masuk ke kerongkongan, lambung, atau usus. Larva akan tumbuh menjadi cacing dewasa. Ketika cacing mati, timbul massa meradang dalam tubuh yang dapat menyebabkan komplikasi.
Gejala anisakiasis termasuk sakit perut, diare, dan demam ringan. Mereka yang alergi mungkin mendapat gejala yang kadang-kadang separah anafilaksis.
Cacing pita biasanya ditemukan pada ikan air tawar (atau ikan yang menghabiskan sebagian besar hidup mereka di air tawar). Bahkan, salmon juga bisa membawa cacing pita.
Cacing pita, umumnya tinggal di saluran pencernaan. Dalam banyak kasus, orang dengan kutu cacing pita yang berasal dari sushi tidak akan memiliki gejala apapun.
Namun, jika cacing sudah dewasa dan beekembang biak, dapat menyebabkan diare, tidak enak badan, dan penurunan berat badan. Dalam kasus ekstrim, cacing dapat menyebabkan obstruksi usus.
Gnathostomiasis - infeksi cacing (nematoda) dari genus gnathosoma, adalah yang paling buruk dari semuanya. Cacing parasit ini paling sering terlihat di Asia tenggara dan Afrika.
Makan seafood dan hewan air tawar (termasuk burung yang minum di perairan tawar) yang mentah atau setengah matang, dapat menempatkan seseorang pada risiko penularan.
Jika cacing lain biasanya hanya ada di saluran pencernaan, cacing yang satu ini dapat melakukan perjalanan ke banyak area tubuh.
Cacing gnathosoma dapat dilihat seperti bengkak kecil yang bergerak di bawah kulit. Hal ini terjadi karena cacing bergerak tepat di bawah kulit. Cacing gnathosoma dapat masuk ke hati, mata dan sistem saraf pusat . Meskipun tidak beracun, cacin ini dapat menyebabkan nyeri, kelumpuhan, koma, dan kematian.
Tanda-tanda yang paling umum kondisi cacingan adalah diare, muntah, demam, mual rasa tidak enak di perut, penurunan berat badan mendadak.

Apa yang dapat Anda lakukan?
CDC merekomendasikan supaya kita menghindari ikan mentah atau setengah matang. Jika Anda sangat khawatir tentang cacing tapi masih ingin menikmati sushi, pilih restoran yang menyediakan sushi matang.
Anda mungkin akan dapat mengetahui apakah ada cacing mendekati otak Anda, jika Anda menderita nyeri saraf yang parah. Monitor kulit Anda dengan cermat, terutama setelah makan ikan mentah.
Jika Anda melihat benjolan di kulit, pastikan itu tidak bergerak. Jika bergerak - atau jika Anda mengalami sakit perut atau salah satu gejala lain seperti di atas, segera temui dokter untuk menghindari komplikasi yang lebih serius.


SumberPositive Med

Jangan Sebarkan Perbuatan Maksiatmu!



Jangan Sebarkan Perbuatan Maksiatmu!


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:كُلُّ أُمَّتِى مُعَافىً إِلِّا الْمُجَاهِرَ الَّذِى يَعْمَلُ الْعَمَلَ بِالَّليْلِ فَيَسْتُرُهُ رَبُّهُ ثُمَّ يُصْبِحُ فَيَقُوْلُ : يَا فُلَان إِنِّى عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَ كَذَا فَيَكْشِفُ سِتْرَ اللَّه عَزَّ و جَلَّ-الطبراني
Artinya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Seluruh umatku diampuni, kecuali pelaku terang-terangan (dalam maksiat), yang melakukan perbuatan di malam hari dan Rabb-nya menutupinya, kemudian di pagi harinya mengatakan,’Wahai fulan, tadi malam aku melakukan demikian…demikian…’ Maka ia membuka tutup Allah Azza wa Jalla.” (Riwayat At Thabarani, dishahihkan oleh As Suyuthi)
Al Munawi menyampaikan bahwa tutup itu terbuka dikarenakan pelakunya telah mengumumkannya kepada khalayak. Dan perbuatan itu termasuk penghianatan, karena Allah telah menutupi perbuatan itu. Karena sifat Allah dan nikmat-Nya adalah menampakkan keindahan dan menutupi keburukan. Maka menampakkannya merupakan kekufuran terhadap nikmat Allah.
Dan adanya dampak dari perbuatan itu yang berupa timbulnya keinginan untuk melakukan maksiat bagi siapa yang mendengar dan menyaksikannya maka itu merupakan dua dosa. Jika hal itu ditambahi dengan ajakan untuk melakukan maksiat dan menyebabkan seseorang melakukannya maka dosanya menjadi empat, dan keadaan pun semakin memburuk.
Oleh sebab itu, Imam An Nawawi berpendapat jika seseorang melakukan maksiat hendaklah ia tidak menyampaikan kepada siapapun, namun segera berhenti malakukan hal  itu dan menyesalinya serta berazam kuat untuk tidak mengulanginya.
Namun apabila menceritakan perbuatan itu kepada syeikhnya, agar penanya memperoleh cara untuk bisa mengetahui sebabnya dan cara menghentikan maksiatnya tersebut maka hal itu merupakan perkara yang baik.
Sebagaimana Imam  Al Ghazali membedakan antara mengabarkan perbuatan maksiat dalam rangka bertanya dan mengabarkannya dalam rangka menjadikan perbuatan tersebut sebagai bahan senda-gurau. Yang pertama tidak mengapa, yang kedua merupakan perbuatan yang dicela. (Lihat, Faidh Al Qadir, 5/41,42)
Rep: Sholah Salim 
Editor: Thoriq
www.hidayatullah.com

Contoh ILM Pramuka

Bagaimana Menguasai dan Mengingati 'Vocabulary'

Konsep Dasar Belajar Bahasa Inggris

Salman (Sakti Sheila on 7) : Idolaku_BersamaOrangSalih